Inovasi Roti Tawar Cokelat Tinggi Protein dengan Tepung Kedelai, Tepung Daun Kelor, dan Telur untuk Pencegahan Stunting pada Anak

Innovation of High-Protein Chocolate White Bread with SoybeanFlour, Moringa Oleifera Leaf Flour, and Egg for Stunting Preventionin Children

Authors

DOI:

https://doi.org/10.30872/jsk.v6i3.759

Keywords:

roti tawar cokelat, tepung kedelai , tepung daun kelor, pencegahan stunting, pangan fungsional

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, sehingga diperlukan inovasi pangan fungsional bergizi tinggi untuk pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi roti tawar cokelat tinggi protein dengan mengombinasikan tepung kedelai, tepung daun kelor, dan telur guna meningkatkan profil nutrisinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis gizi berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017. Roti diformulasikan dengan 16,9% tepung kedelai, 1,02% tepung daun kelor, dan 16,64% telur dari total berat bahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa per 100 gram roti mengandung energi 256,04 kkal, protein 10,57 g (18,55%), lemak 7,85 g (13,78%), karbohidrat 38,55 g (67,67%), dan zat besi 2,34 mg. Komposisi ini menunjukkan potensi roti sebagai sumber protein dan zat besi untuk anak-anak. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, kebutuhan energi, protein, dan zat besi untuk anak usia 1-3 tahun masing-masing adalah 1350 kkal, 20 gram, dan 7 mg, sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun, kebutuhan energi, protein, dan zat besi adalah 1400 kkal, 25 gram, dan 10 mg. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan harian protein, seorang anak usia 1-3 tahun membutuhkan sekitar 2 porsi, sedangkan anak usia 4-6 tahun membutuhkan 2,5 porsi roti tawar ini setiap hari.

Author Biography

  • Dwi Monik Purnamasari, Universitas Pertahanan Republik Indonesia

    departemen ilmu gizi

References

[1] Kementerian Kesehatan RI, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/1928/2022 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting. Jakarta, 2018.

[2] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Hasil Utama RISKESDAS 2018. Jakarta, 2019.

[3] A. Soliman et al., “Early and long-term consequences of nutritional stunting: From childhood to adulthood,” Acta Biomedica, vol. 92, no. 1, Mar. 2021, doi: 10.23750/abm.v92i1.11346.

[4] A. Endrinikapoulos, D. N. Afifah, M. Mexitalia, R. Andoyo, I. Hatimah, and N. Nuryanto, “Study of the importance of protein needs for catch-up growth in Indonesian stunted children: a narrative review,” SAGE Publications, Jan. 2023, doi: 10.1177/20503121231165562.

[5] K. K. R. I. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017, 2018th ed. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2018.

[6] K. E. Damayanti, Y. L. R. Dewi, B. Wiboworini, and V. Widyaningsih, “Animal protein on stunting prevention: A narrative review,” in IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci., Institute of Physics, 2024, doi: 10.1088/1755-1315/1292/1/012027.

[7] Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014, 2014.

[8] S. Sachriani and Y. Yulianti, “Analisis kualitas sensori dan kandungan gizi roti tawar tepung oatmeal sebagai pengembangan produk pangan fungsional,” JST (Jurnal Sains Terapan), vol. 7, no. 2, pp. 26–35, Dec. 2021, doi: 10.32487/jst.v7i2.1235.

[9] W. Pratama, P. D. Swamilaksita, D. Angkasa, P. Ronitawati, and R. Fadhilla, “Pengembangan roti tawar sumber protein dengan penambahan tepung ampas kelapa dan tepung kedelai,” J. ..., vol. 11, no. 2, pp. 111–124, 2021.

[10] Y. J. Kwon, H. S. Lee, J. Y. Park, and J. W. Lee, “Associating intake proportion of carbohydrate, fat, and protein with all-cause mortality in Korean adults,” Nutrients, vol. 12, no.10, pp. 1–12, Oct. 2020, doi: 10.3390/nu12103208.

[11] S. Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.

[12] C. Oktarina, C. Dilantika, N. L. Sitorus, and R. W. Basrowi, “Relationship Between Iron Deficiency Anemia and Stunting in Pediatric Populations in Developing Countries: A Systematic Review and Meta-Analysis,” MDPI, Oct. 2024, doi: 10.3390/children11101268.

[13] W. Khoirunnisa, A. Fauziyah, and N. Nasrullah, “Penambahan tepung kedelai pada roti tawar tepung sorgum dan pati garut bebas gluten dengan zat besi dan serat pangan,” Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan, vol. 5, no. 1, pp. 72–86, Jul. 2021, doi: 10.22487/ghidza.v5i1.217.

[14] Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia, 2019.

Published

2025-11-29

Issue

Section

Articles

How to Cite

[1]
D. M. Purnamasari and A. A. Hartanto, “Inovasi Roti Tawar Cokelat Tinggi Protein dengan Tepung Kedelai, Tepung Daun Kelor, dan Telur untuk Pencegahan Stunting pada Anak: Innovation of High-Protein Chocolate White Bread with SoybeanFlour, Moringa Oleifera Leaf Flour, and Egg for Stunting Preventionin Children”, J. Sains. Kes, Nov. 2025, doi: 10.30872/jsk.v6i3.759.

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

31-40 of 183

You may also start an advanced similarity search for this article.