Hubungan Tingkat Stres dengan Stomatitis Aftosa Rekuren pada MahasiswaUniversitas Mulawarman

Correlation Between Stress Level and Reccurent Aphtous Stomatitis on Mulawarman University’s Students

Authors

  • Hanida Fitri Hasanah Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia Author https://orcid.org/0009-0001-0030-3832
  • Verry Asfirizal Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia Author
  • Silfra Yunus Kende Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia Author
  • Masyhudi Masyhudi Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia Author
  • Cicih Bhakti Purnamasari Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.30872/jsk.v5i2.p126-131

Keywords:

SAR, Stres, Mahasiswa

Abstract

Salah satu penyakit mulut yang sering terjadi ialah stomatitis aftosa rekuren (SAR), dengan karakteristik ulkus berulang terbatas pada mukosa mulut tanpa gangguan sistemik lainnya pada pasien. SAR dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan terganggu, terutama pada saat melakukan fungsi pengunyahan, penelanan, dan berbicara. Sejumlah faktor presdisposisi diduga memicu terjadinya SAR, diantaranya yaitu stres. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) pada mahasiswa sarjana dan diploma Universitas Mulawarman. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan sampel sebanyak 380 mahasiswa universitas Mulawarman, analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menyatakan stres pada mahasiswa sebesar 82% (311 mahasiswa) berada pada kategori sedang dan sebanyak 61% (231 mahasiswa) tidak mengalami SAR. Uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres ringan dan sedang maupun stres sedang dan berat terhadap SAR dan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres ringan dan berat terhadap SAR, dimana mahasiswa dengan tingkat stres ringan cenderung tidak mengalami SAR 1,731 kali lipat dibandingkan mahasiswa dengan stres berat. Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan stomatitis aftosa rekuren pada mahasiswa Universitas Mulawarman.

References

T. Karemore, Radiology. New Delhi: CBS Publisher& Distributors Pvt Ltd, 2021.

P. L. Suling, E. Tumewu, Joenda. S. Soewantoro, and A. Y. Darmanta, “Angka kejadian lesi yang diduga sebagai Stomatitis Aftosa Rekuren pada mahasiwa Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi,” e-GIGI, vol. 1, no. 2, 2013, doi: 10.35790/eg.1.2.2013.3153.

L. Noviana, S. Kintawati, and S. Susilawati, “Kualitas hidup pasien dengan inflamasi mukosa mulut stomatitis aftosa rekuren: Quality of life of patients with oral mucosal inflammation recurrent aphthous stomatitis,” Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, vol. 30, no. 1, p. 58, 2018, doi: 10.24198/jkg.v30i1.18191.

R. Fauziyyah, R. C. Awinda, and B. Besral, “Dampak Pembelajaran Jarak Jauh terhadap Tingkat Stres dan Kecemasan Mahasiswa selama Pandemi COVID-19,” Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan, vol. 1, no. 2, p. 113, 2021, doi: 10.51181/bikfokes.v1i2.4656.

Mahmud & Ayun, “Stress, Koping dan Adaptasi Teori dan Pohon Masalah Keperawatan,” Jurnal Indigenous, vol. 1, no. 2, pp. 29–39, 2016.

M. Barseli, I. Ifdil, and L. Fitria, “Stress akademik akibat Covid-19,” JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia), vol. 5, no. 2, p. 95, 2020, doi: 10.29210/02733jpgi0005.

S. F. Chan and A. M. La Greca, “Perceived Stress Scale (PSS),” Encyclopedia of Behavioral Medicine, pp. 1646–1648, 2020, doi: 10.1007/978-3-030-39903-0_773.

Y. P. Wowor, H. Munayang, and A. Supit, “Hubungan Stres dengan Stomatitis Aftosa Rekuren pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi,” e-GIGI, vol. 7, no. 2, pp. 71–75, 2019, doi: 10.35790/eg.7.2.2019.23930.

L. Baccaglini, D. W. Theriaque, J. J. Shuster, G. Serrano, and R. V. Lalla, “Validation of anamnestic diagnostic criteria for recurrent aphthous stomatitis,” Journal of Oral Pathology and Medicine, vol. 42, no. 4, pp. 290–294, 2013, doi: 10.1111/jop.12015.

S. Musabiq and I. Karimah, “Gambaran Stress dan Dampaknya Pada Mahasiswa,” Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 20, no. 2, p. 74, 2018, doi: 10.26486/psikologi.v20i2.240.

A. M. Shahsavarani, H. Ashayeri, M. Lotfian, and K. Sattari, “The effects of stress on visual selective attention: The moderating role of personality factors.,” Journal of American Science, vol. 9, no. 6s, pp. 1–16, 2013.

R. Raudha and T. Tahlil, “Stres dan strategi koping pada mahasiswa keperawatan,” JIM FKep, vol. I, no. 1, pp. 1–7, 2016.

A. Sulistiani, S. Hernawati, and M. A. P, “Prevalensi dan Distribusi Penderita Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) di Klinik Penyakit Mulut RSGM FKG Universitas Jember pada Tahun 2014,” e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 5, no. 1, pp. 169–176, 2017.

A. Susanto, I. Wahyuni, and F. Balafif, “Relationship among perceived stress, oral health status, stomatitis, and xerostomia in the community during the COVID-19 pandemic: A cross-sectional survey,” Journal of International Oral Health, vol. 12, no. 8, pp. S106–S112, 2020, doi: 10.4103/jioh.jioh_290_20.

S. Vundavalli, N. Sirisha, C. Jayasree, G. Sindhura, D. Radhika, and Ak. Rao, “The association between psychological stress and recurrent aphthous stomatitis among medical and dental student cohorts in an educational setup in India,” Journal of Indian Association of Public Health Dentistry, vol. 13, no. 2, p. 133, 2015, doi: 10.4103/2319-5932.159047.

S. Ziaudeen and R. Ravindran, “Assessment of oxidant-antioxidant status and stress factor in recurrent aphthous stomatitis patients: Case control study,” Journal of Clinical and Diagnostic Research, vol. 11, no. 3, pp. ZC01–ZC04, Mar. 2017, doi: 10.7860/JCDR/2017/22894.9348.

H. Yaribeygi, Y. Panahi, H. Sahraei, T. P. Johnston, and A. Sahebkar, “The impact of stress on body function: A review,” EXCLI Journal, vol. 16, pp. 1057–1072, 2017, doi: 10.17179/excli2017-480.

L. Rosyanti, R. Devianti, I. Hadi, and S. Syahrianti, “KAJIAN TEORITIS: HUBUNGGAN ANTARA DEPRESI DENGAN SISTEM NEUROIMUN (SITOKIN-HPA AKSIS) ‘Psikoneuroimunoologi,’” Health Information: Jurnal Penelitian, vol. 9, no. 2, pp. 35–52, 2017, doi: 10.36990/hijp.v9i2.104.

S. J. Choe et al., “Psychological Stress Deteriorates Skin Barrier Function by Activating 11?-Hydroxysteroid Dehydrogenase 1 and the HPA Axis,” Scientific Reports, vol. 8, no. 1, pp. 1–11, 2018, doi: 10.1038/s41598-018-24653-z.Pustaka

Published

2025-01-14

How to Cite

Hubungan Tingkat Stres dengan Stomatitis Aftosa Rekuren pada MahasiswaUniversitas Mulawarman: Correlation Between Stress Level and Reccurent Aphtous Stomatitis on Mulawarman University’s Students. (2025). Jurnal Sains Dan Kesehatan, 5(2), 126-131. https://doi.org/10.30872/jsk.v5i2.p126-131