Optimasi dan Evaluasi Kondisi Biji Tomat (Lycopersicum esculentum) yang Telah Dibawa ke Luar Angkasa Secara Fisik dengan Kultur Jaringan

Authors

  • Maria Almeida Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman Author
  • Rizkita Rachmi Esyanti Kelompok Keilmuan Sains dan Bioteknologi Tumbuhan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung Author
  • Fenny Martha Dwivany Kelompok Keilmuan Sains dan Bioteknologi Tumbuhan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung Author

Keywords:

Lycopersicum esculentum, Kultur Jaringan, Perbanyakan Bibit, MS, Ex-vitro, SEM

Abstract

Tomat (Lycopersicum esculentum) adalah tanaman kelompok Solanaceae yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Permintaan buah tomat yang meningkat dapat menyebabkan kebutuhan bibit tomat meningkat. Produktivitas dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara radiasi. Biji Tomat yang dibawa ke luar angkasa, dievaluasi secara fisik dengan menggunakan alat SEM. Pengamatan SEM menunjukkan bahwa pada biji luar angkasa terdapat adanya permukaan berlubang atau berpori, yang diduga akibat pengaruh radiasi kosmik. Biji tomat (L. esculentum) kontrol pada saat kering maupun basah strukturnya terlihat lebih tebal daripada biji tomat (L. esculentum) yang telah dibawa ke ruang angkasa. Perbanyakan secara konvensional (in-vivo) sulit diterapkan, antara lain karena adanya kendala serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, dan  virus yang dapat terbawa dalam biji. Oleh karena itu, diperlukan satu cara untuk mengatasi masalah produksi bibit yang bebas penyakit, yaitu dengan cara in vitro menggunakan kultur jaringan. Keberhasilan kultur jaringan memerlukan beberapa kondisi yang mendukung, antara lain penggunaan medium yang tepat, eksplan yang baik, kondisi aseptik, dan faktor lingkungan yang tepat. Sehingga, dilakukan optimasi untuk mendapatkan protokol in-vitro, yang dapat digunakan untuk menghasilkan bibit yang seragam. Hasil menunjukkan bahwa protokol untuk perbanyakan bibit tomat yang telah optimal adalah medium MS dengan penambahan 0,2 ppm IAA dan 2 ppm BAP.  Sedangkan medium untuk perakaran adalah MS dengan penambahan 1 ppm IBA. Bibit dapat diaklimatisasi dan ditumbuhkan ex vitro dengan tingkat keberhasilan 98 %.

References

[1] Setijo, P. (2009): Benih Tomat, Edisi kelima, Kanisius, Yogyakarta.

[2] Saldianto. (2009): Pengaruh IAA dan BAP Terhadap Multiplikasi Tunas Kunyit (Curcuma domestica Val) Secara In-vitro, Laporan akhir program alih jenjang D3-D4, Institut Teknologi Bandung.

[3] Evans, D.E., Coleman, J.O.D., dan Kearns, A. (2003): Plant Cell Culture, BIOS Scientific Publisher, London and Newyork.

[4] Sanatombi. dan Sharma, G.J. (2007): Micropropagation of Capsicum annuum, Bot.Hort.Agrobot.Cluj, vol.35, Issue 1, Department of Life Sciences, Manipur University, Canchipur, Imphal, India.

[5] Rostiana, O. dan Seswita, D. (2007): Pengaruh IAA dan NAA Terhadap Induksi Perakaran Tunas Piretrum (Chrysanthemum cinerariifolium) Klon Prau 6 Secara In-vitro, Bul.Littro, vol. xviii no. 1, 39-48.

[6] George, E.F. dan Sherrington, P.D. (1984): Plant Propagation by Tissue Culture, Handbook and Directory of Commercial Laboratories, Exegenetics LTD Evessly Basingstike Hants, England.

[7] Lestari, G.E. (2008): Kultur Jaringan, Penerbit AkaDemiA, Bogor.

[8] Moore, T. (1989): Biochemistry and Physiology of Plant Hormones 2nd edition, Springer- Verlag New York Inc.

[9] Gubis, J., Lajhova, Z., Farago, J., dan Jurekova, Z. (2004): Effect of Growth Regulators on Shoot Induction and Plant Regeneration in Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.), Short communication Biologia, Bratislava, 59(3), 405-408.

[10] George, E.F., (2008): Plant Tissue Culture Procedure Background dalam George, E.F., Hall, A.M., dan Klerk., Eds, Plant Propagation by Tissue Culture 3rd edition, p. 7, Publisher by Springer, Netherlands.

[11] Mineo, L. (1990): Plant Tissue Culture Techniques in Tested Studies for Laboratory Teaching volume 11. Ed. C. A. Goldman. Pages 160.

[12] Wetherell, D.F. (1982): Introduction to In-vitro Propagation, Avery Publishing Group Inc. Wayne, New jersey.

[13] Muller, J.L., Vertocnik, A., dan Town, C.D. (2005): Analysis of Indole-3-Butyric Acid Induced Adventitious Root Formation on Arabidopsis Stem Segments, Journal of Experimental Botany, volume 56(418), 2095-2105.

[14] Das, A. (2011): Effect of Growth Regulators on Shoot Induction and Plant Regeneration in Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.), Disertasi Bioteknologi-FMIPA, BRAC University, Bangladesh.

[15] Barahima, A. (2011): Prinsip Dasar Teknik Kultur Jaringan, Cv. Alfabeta, Bandung.

[16] Ren, W., Zhang, Y., Deng, B., Guo, H., Cheng, L., dan Liu, Y. (2010): Effect Of Space Flight Factors On Alfalfa Seeds, African Journal of Biotechnology, 9(43), 7273-7279. Diunduh 3 Desember 2011.

[17] Oktaviani., Suliwarno, A., dan Puspitasari, T. (2011): Pembuatan dan Karakterisasi Kopolimer e-PTFE-g-stirena dengan Metode Pencangkokan Prairadiasi, Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi, Volume 7, nomor 1, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi. Batan.

Published

2024-11-14

How to Cite

Optimasi dan Evaluasi Kondisi Biji Tomat (Lycopersicum esculentum) yang Telah Dibawa ke Luar Angkasa Secara Fisik dengan Kultur Jaringan. (2024). Jurnal Sains Dan Kesehatan, 2(4), 438-443. https://jsk.ff.unmul.ac.id/index.php/JSK/article/view/239