Uji Aktivitas Analgesik Minyak Ikan Salmon Pada Mencit Putih (Mus Musculus) Jantan Galur Balb/C Dengan Metode Hot Plate

Authors

  • Ersanda Nurma Praditapuspa Lab Farmakologi, Bagian Farmasi Klinik, Farmasi,Universitas Hang Tuah Author
  • Angelica Kresnamurti Lab Farmakologi, Bagian Farmasi Klinik, Farmasi,Universitas Hang Tuah Author
  • Ana Khusnul Faizah Lab Farmakologi, Bagian Farmasi Klinik, Farmasi,Universitas Hang Tuah Author

Keywords:

minyak ikan salmon, minyak ikan, analgesik, hot plate, omega-3, nutrasetikal

Abstract

Nyeri merupakan gejala yang sering terjadi pada manusia, yang bisa dikurangi tanpa kehilangan kesadaran dengan analgesik. Salah satu obat analgesik-antipiretik adalah parasetamol. Jika parasetamol digunakan dalam dosis besar dan dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko hepatotoksik.  Minyak ikan salmon yang kaya akan omega-3 saat ini telah menjadi salah satu nutrasetikal yang banyak digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik sentral minyak ikan salmon dengan metode hot plate. Penelitian ini menggunakan mencit putih (Mus musculus) jantan galur BALB/C. Pengamatan waktu latensi ketika mencit diletakkan di atas hot plate dengan suhu 55 ± 0,5°C dilakukan pada saat sebelum pemberian perlakuan, 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105 dan 120 menit. Hasil perhitungan %MPE kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok minyak ikan salmon dosis 10 mg/kg BB, 20 mg/kg BB dan 30 mg/kg BB sebesar 2,13%; 72,04%; 34,94%; 46,80% dan 74,59% pada menit ke-60. Ada perbedaan signifikan %MPE pada menit ke-60. Hasil penelitian menunjukkan nilai ED50 minyak ikan salmon sebesar 15,990 mg/kg BB. Hal tersebut menunjukkan bahwa minyak ikan salmon mempunyai aktivitas analgesik pada mencit putih (Mus musculus) dengan metode hot plate.

References

[1] KKP. 2016. Laporan Kinerja Kementrian Kelautan dan Perikanan 2015. Jakarta: Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

[2] Guyton dan Hall. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi keduabelas. Singapura: Elsevier.

[3] Corey R, Schilling A, Leonard M, Eghtesad B. 2010. Acetamminophen: Old Drug, New Warnings. Cleveland Clinic Journal of Medicine. Vol. 77. No.1.

[4] Dianne, Yusri., Yorva Sayoeti & Marlia Moriska. 2015. Kelainan Hati Akibat Penggunaan Antipiretik. Jurnal Kesehatan Andalas. No.4.

[5] Carlos, H. 2017. The Use of Omega-3 PUFAS in Pain Therapy. Journal of Pharmacology and Clinical Research. Vol.3.

[6] Nobre, et al. 2013. Eicosapentaenoic acid and docosahexaenoic acid exert anti-inflammatory and antinociceptive effects in rodents at low doses. Nutrition research 33. 422–433.

[7] Martiningsih. 2012. Penggunaan Terapi Komplementer Fish Oil dalam Menurunkan Nyeri Akibat Inflamasi Pada Rheumatoid Arthritis. Jurnal Kesehatan Prima. Vol. 6 No. 2

[8] Lien EJ. SAR. 1987. Side Effect and Drug Design. NewYork: Marcel Dekker Inc.

[9] Vogel, G. H. 2008. Drug Discovery and Evaluation: Safety and Pharmacokinetic Assays. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

[10] Nobre, et al. 2013. Eicosapentaenoic acid and docosahexaenoic acid exert anti-inflammatory and antinociceptive effects in rodents at low doses. Nutrition research 33: 22–433.

[11] Faizah AK, Andhiarto Y, Riwanti P. 2019. In Vivo Analgesic Activity of Omega-3 on Mice Induced Peripheral Pain. Biomed Pharmacol J. 12(2): 961-3. Available from: ttps://bit.ly/2IO1Ss5

[12] Nakamoto K, Nishinaka T, Mankura M, Fujita-Hamabe W, Tokuyama S. (2010). Antinociceptive effects of docosahexaenoic acid against various pain stimuli in mice. Pharm Biol Vol. 33.

Published

2024-11-14

How to Cite

Uji Aktivitas Analgesik Minyak Ikan Salmon Pada Mencit Putih (Mus Musculus) Jantan Galur Balb/C Dengan Metode Hot Plate. (2024). Jurnal Sains Dan Kesehatan, 2(4), 259-264. https://jsk.ff.unmul.ac.id/index.php/JSK/article/view/159