Status Pertumbuhan Bayi 0–1 Tahun dari Ibu dengan Riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) Semasa Hamil di Salatiga
Keywords:
Ibu hamil, Kekurangan Energi Kronis, Status GiziAbstract
References
[1] Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. 2017. Laporan perkembangan pencapaian Millenium Development GoalsIndonesia. Jakarta: Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional.
[2] Romauli & Suryati. 2013. Buku Ajaran Asuhan Kebidanan I. Yogyakarta: Nuha Medika.
[3] Nasir, Muhith, Sahidin & Mubarak. 2013. Komunikasi Dalam Keperawatan: Aplikasi dan Teori. Jakarta, Salemba Medika.
[4] Departemen Kesehatan RI. 2012. Pedoman Penanggulangan Ibu Hamil Kekurangan Enargi Kronis. Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Departemen Kesehatan. RI .Jakarta.
[5] Fitriana, D. A. 2016. Diah Ayu Fitriana. Gizi Seimbang Ibu Hamil. Jakarta.
[6] Kurnia Y. N. 2014. Perbedaan Panjang Bandan Bayi Baru Lahir antara Ibu Hamil KEK dan Tidak KEK. Vol 3 No. 1 Hal: 235-242.
[7] Rukmana, S. C & Kartasurya, M. I. 2014. Hubungan Asupan Gizi dan Status Gizi Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Badan Lahir Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Suruh Kabupaten Semarang. Vol. 3 No. 1 Hal: 192-199.
[8] Kemenkes. 2013. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia. Jakarta.
[9] Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, & Usman A. 2012. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta
[10]Agung N. Gunawan. 2010. Pengaruh Kehamilan Di Usia Muda terhadap Kelahiran Prematur. Vol. 12, No.4: 161-165.
[11]Prawirohardjo, S. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta : P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
[12]Marmi dan Rahardjo, K. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
[13]Novianti, H. (2016). Pengaruh Usia Dan Paritas Terhadap Kejadian Pre Eklampsia Di Rsud Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 9(1), 25–31.
[14]Pratiwi A.H. 2012. Pengaruh Kekurangan Energi Kronis (KEK) Dan Anemia Saat Kehamilan Terhadap Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Dan Nilai Apgar. Gizi Kesehatan Masyarakat. Universitas Jember.
[15]Amini, A., Pamungkas, C. E., & Harahap, A. P. (2018). Umur Ibu dan Paritas Sebagai Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan. Midwifery Journal, 3(2), 108–113.
[16]Amallia, S., Afriyani, R., & Utami, S. P. (2017). Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Rumah Sakit BARI Palembang. Jurnal Kesehatan, viii(3), 389–395.
[17]Niven. 2012. Psikologi Kesehatan Pengantar Untuk Perawat Dan Profesional Kesehatan Lain. EGC. Jakarta.
[18]Bakta IM. 2015. Pendekatan terhadap pasien anemia. Buku ajar ilmu penyakit dalam UI. Jakarta.
[19]Marlapan S, Wantouw B, dan Sambeka J. 2013. Hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tuminting Kecamatan Tuminting Kota Manado. Jurnal Keperawatan ; 1 : 201.
[20]Gulo, Rosina. 2009. Penelitian tentang Sfafus Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia pada lbu Hamil di Daerah Endemis Malaria di Kabupaten Nras. Tesis Program Pascasarjana llmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
[21]Mutthaya, S. 2009. Maternal nutrition and low birth weight–what is really important. The Indian Journal and Medical Research. 130, 600–608.
[22]Lestari, R. I. (2015). Pengaruh Hepatitis terhadap Kehamilan. Jurnal Agromed Unila, 2(2), 0–3.
[23]Dias, R. 2010. Bayi Lahir Dari Ibu dengan HbsAg Positif. Fakultas Kesehatan Dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
[24]Putri A. R & Al Muqsith. 2015. Hubungan Lingkar Lengan Atas Ibu Hamil Dengan Berat Badan Lahir Bayi Di Rumah Sakit Cut Mutia Kabupaten Aceh Utara Rumah Sakit Tk Iv Im.07.01 Lhokseumawe. JUrana; Kedokteran dan Kesehatan. Universitas Malikussaleh.
[25]Sumiaty & Restu R. 2016. Kurang Energi Kronis (KEK) Ibu Hamil Dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Jurnal Husada Mahakam. Vol. IV No. 3 Hal 162-170.
[26]Anggraini, .D., Adityawarman, Utomo, B., & Suryawan, A. (2014). Risk Factor of Low Birth Weight (LBW), a Case Control Study. Folia Medica Indonesiana, [e-journal] 50(4). 270–277.
[27]Tonda M. 2012. Hubungan Status Gizi Saat Lahir Dengan Pertumbuhan Balita Saat Ini di Desa Caturtunggal Kecamatan Depok Sleman Yogyakarta. Hal 1-10.
[28]Kulasekaran RA. 2012. Influence Of Mother’s chronicenergy deficiency on the nutritional status of preschool children in empowered action group States In India. Int J Nutr Pharmacol Neurol Dis ; 2:198.
[29]Ariyani DE, Achadi EL, Irawati A. 2012. Validasi Lingkar Lengan Atas Mendeteksi Resiko Kekurangan Energi Kronis pada Wanita Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasinoal; 7(2) : 83-89.
[30]Auliya C, Woro KH, Budiono I. 2015. Profil Statsus Gizi Di Tinjau Dari Topografi Wilayah Tempat Tinggal (Studi Di Wilayah Pantai Dan Wilayah Punggung Bukit Kabupaten Jepara). Unnes jurnal of public health; 4(2) : 108-116.
[31]Santoso B, Sulistiowati E, Sekartuti, Lamid A. 2013. Kementrian Ksehatan RI, Pokok-Pokok Hasil Riskesdas Provinsi Jawa Tengah 2013. Jakarta : Lembaga Penerbit Litbangkes.
[32]Almatsier S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
[33]Kemenkes RI. 2017. Penilaian status Gizi. Jakarta
[34]Anindita P. 2012. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, Kecukupan Protein dan Zink dengan Stunting pada Balita Usia 6-35 Bulan di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. JKM : Vol (1): 17-26.
[35]Suiraoka I, Kusumajaya A dan Larasati N. 2011. Perbedaan Konsumsi Energi, Protein, Vitamin A dan Frekuensi Sakit Karena Infeksi Pada Anak Balita Status Gizi Pendek (Stunted) dan Normal di Wilayah Kerja Puskesmas Karangasem I. JIG : Vol (2): 74-82.
[36]Bloem MW, Pee SD, Hop LT, Khan NC, Laillou A, Minarto, Pfanner RM, Soekarjo D, Soekirman, Solon JA, Theary C, Wasantwisut E. 2013. Key strategies to further reduce stunting in Southeast Asia: Lessons from the ASEAN countries workshop. Food and Nutrition Bulletin: 34:2.
[37]Cobham A, Garde M, Crosby L. 2013. Global Stunting Reduction Target: Focus on the Poorest or Leave Millions Behind.