Status Pertumbuhan Bayi 0–1 Tahun dari Ibu dengan Riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) Semasa Hamil di Salatiga

Authors

  • Bakoh Ambarwati Universitas Kristen Satya Wacana Author
  • Gelora Mangalik Universitas Kristen Satya Wacana Author
  • Kristiani Desimina Tauho Universitas Kristen Satya Wacana Author

Keywords:

Ibu hamil, Kekurangan Energi Kronis, Status Gizi

Abstract

Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan keadaan dimana ibu mengalami kekurangan makanan yang berlangsung menahun yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan gizi seperti energi dan protein. Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai risiko melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) dan berisiko melahirkan bayi stunting. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat status pertumbuhan bayi yang lahir dari ibu dengan riwayat KEK di Salatiga. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif yang dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2019 dengan populasi seluruh ibu dengan kejadian KEK pada Januari-Desember 2018 di 6 puskesmas se-Kota Salatiga. Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder berupa buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan instrumen formulir check list yang digunakan untuk menyalin data dari buku KIA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 94,7% bayi lahir dengan berat badan 2500-4000 gram dan 5,3% memiliki BBLR. Berdasarkan panjang badan saat lahir, 86,2% bayi memiliki panjang badan lahir 46-49 cm, 8,5% lahir pendek dan 5,3% lahir tinggi. Status pertumbuhan bayi sekarang menunjukkan bahwa 98,9% memiliki status gizi baik dan tinggi badan normal. Kesimpulannya bayi yang lahir dari ibu dengan riwayat KEK semasa kehamilan sebagian besar memiliki status pertumbuhan yang normal. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat pengaruh kejadian KEK terhadap perkembangan bayi.

References

[1] Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. 2017. Laporan perkembangan pencapaian Millenium Development GoalsIndonesia. Jakarta: Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional.

[2] Romauli & Suryati. 2013. Buku Ajaran Asuhan Kebidanan I. Yogyakarta: Nuha Medika.

[3] Nasir, Muhith, Sahidin & Mubarak. 2013. Komunikasi Dalam Keperawatan: Aplikasi dan Teori. Jakarta, Salemba Medika.

[4] Departemen Kesehatan RI. 2012. Pedoman Penanggulangan Ibu Hamil Kekurangan Enargi Kronis. Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Departemen Kesehatan. RI .Jakarta.

[5] Fitriana, D. A. 2016. Diah Ayu Fitriana. Gizi Seimbang Ibu Hamil. Jakarta.

[6] Kurnia Y. N. 2014. Perbedaan Panjang Bandan Bayi Baru Lahir antara Ibu Hamil KEK dan Tidak KEK. Vol 3 No. 1 Hal: 235-242.

[7] Rukmana, S. C & Kartasurya, M. I. 2014. Hubungan Asupan Gizi dan Status Gizi Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Badan Lahir Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Suruh Kabupaten Semarang. Vol. 3 No. 1 Hal: 192-199.

[8] Kemenkes. 2013. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia. Jakarta.

[9] Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, & Usman A. 2012. Buku ajar neonatologi. Edisi ke-1. Jakarta

[10]Agung N. Gunawan. 2010. Pengaruh Kehamilan Di Usia Muda terhadap Kelahiran Prematur. Vol. 12, No.4: 161-165.

[11]Prawirohardjo, S. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta : P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

[12]Marmi dan Rahardjo, K. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

[13]Novianti, H. (2016). Pengaruh Usia Dan Paritas Terhadap Kejadian Pre Eklampsia Di Rsud Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 9(1), 25–31.

[14]Pratiwi A.H. 2012. Pengaruh Kekurangan Energi Kronis (KEK) Dan Anemia Saat Kehamilan Terhadap Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Dan Nilai Apgar. Gizi Kesehatan Masyarakat. Universitas Jember.

[15]Amini, A., Pamungkas, C. E., & Harahap, A. P. (2018). Umur Ibu dan Paritas Sebagai Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan. Midwifery Journal, 3(2), 108–113.

[16]Amallia, S., Afriyani, R., & Utami, S. P. (2017). Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Rumah Sakit BARI Palembang. Jurnal Kesehatan, viii(3), 389–395.

[17]Niven. 2012. Psikologi Kesehatan Pengantar Untuk Perawat Dan Profesional Kesehatan Lain. EGC. Jakarta.

[18]Bakta IM. 2015. Pendekatan terhadap pasien anemia. Buku ajar ilmu penyakit dalam UI. Jakarta.

[19]Marlapan S, Wantouw B, dan Sambeka J. 2013. Hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tuminting Kecamatan Tuminting Kota Manado. Jurnal Keperawatan ; 1 : 201.

[20]Gulo, Rosina. 2009. Penelitian tentang Sfafus Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia pada lbu Hamil di Daerah Endemis Malaria di Kabupaten Nras. Tesis Program Pascasarjana llmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.

[21]Mutthaya, S. 2009. Maternal nutrition and low birth weight–what is really important. The Indian Journal and Medical Research. 130, 600–608.

[22]Lestari, R. I. (2015). Pengaruh Hepatitis terhadap Kehamilan. Jurnal Agromed Unila, 2(2), 0–3.

[23]Dias, R. 2010. Bayi Lahir Dari Ibu dengan HbsAg Positif. Fakultas Kesehatan Dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[24]Putri A. R & Al Muqsith. 2015. Hubungan Lingkar Lengan Atas Ibu Hamil Dengan Berat Badan Lahir Bayi Di Rumah Sakit Cut Mutia Kabupaten Aceh Utara Rumah Sakit Tk Iv Im.07.01 Lhokseumawe. JUrana; Kedokteran dan Kesehatan. Universitas Malikussaleh.

[25]Sumiaty & Restu R. 2016. Kurang Energi Kronis (KEK) Ibu Hamil Dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Jurnal Husada Mahakam. Vol. IV No. 3 Hal 162-170.

[26]Anggraini, .D., Adityawarman, Utomo, B., & Suryawan, A. (2014). Risk Factor of Low Birth Weight (LBW), a Case Control Study. Folia Medica Indonesiana, [e-journal] 50(4). 270–277.

[27]Tonda M. 2012. Hubungan Status Gizi Saat Lahir Dengan Pertumbuhan Balita Saat Ini di Desa Caturtunggal Kecamatan Depok Sleman Yogyakarta. Hal 1-10.

[28]Kulasekaran RA. 2012. Influence Of Mother’s chronicenergy deficiency on the nutritional status of preschool children in empowered action group States In India. Int J Nutr Pharmacol Neurol Dis ; 2:198.

[29]Ariyani DE, Achadi EL, Irawati A. 2012. Validasi Lingkar Lengan Atas Mendeteksi Resiko Kekurangan Energi Kronis pada Wanita Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasinoal; 7(2) : 83-89.

[30]Auliya C, Woro KH, Budiono I. 2015. Profil Statsus Gizi Di Tinjau Dari Topografi Wilayah Tempat Tinggal (Studi Di Wilayah Pantai Dan Wilayah Punggung Bukit Kabupaten Jepara). Unnes jurnal of public health; 4(2) : 108-116.

[31]Santoso B, Sulistiowati E, Sekartuti, Lamid A. 2013. Kementrian Ksehatan RI, Pokok-Pokok Hasil Riskesdas Provinsi Jawa Tengah 2013. Jakarta : Lembaga Penerbit Litbangkes.

[32]Almatsier S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

[33]Kemenkes RI. 2017. Penilaian status Gizi. Jakarta

[34]Anindita P. 2012. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, Kecukupan Protein dan Zink dengan Stunting pada Balita Usia 6-35 Bulan di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. JKM : Vol (1): 17-26.

[35]Suiraoka I, Kusumajaya A dan Larasati N. 2011. Perbedaan Konsumsi Energi, Protein, Vitamin A dan Frekuensi Sakit Karena Infeksi Pada Anak Balita Status Gizi Pendek (Stunted) dan Normal di Wilayah Kerja Puskesmas Karangasem I. JIG : Vol (2): 74-82.

[36]Bloem MW, Pee SD, Hop LT, Khan NC, Laillou A, Minarto, Pfanner RM, Soekarjo D, Soekirman, Solon JA, Theary C, Wasantwisut E. 2013. Key strategies to further reduce stunting in Southeast Asia: Lessons from the ASEAN countries workshop. Food and Nutrition Bulletin: 34:2.

[37]Cobham A, Garde M, Crosby L. 2013. Global Stunting Reduction Target: Focus on the Poorest or Leave Millions Behind.

Published

2024-11-14

How to Cite

Status Pertumbuhan Bayi 0–1 Tahun dari Ibu dengan Riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) Semasa Hamil di Salatiga. (2024). Jurnal Sains Dan Kesehatan, 2(4), 347-354. https://jsk.ff.unmul.ac.id/index.php/JSK/article/view/201